Feature Content

Showing posts with label Regional. Show all posts
Showing posts with label Regional. Show all posts

Yogya Segera Miliki Monorel

0 komentar

YOGYAKARTA – Yogyakarta berencana membuat terobosan di bidang transportasi di wilayahnya. Salah satunya dengan membangun monorel yang menghubungkan pusat kota dengan Taman Wisata Candi Borobudur di Magelang.

Penasehat Pembangunan Ekonomi Provinsi DIY Erman Suparno mengatakan, monorel merupakan solusi untuk mengantisipasi masalah infrastrukur transportasi di Yogyakarta.“ Monorel ini simpulsimpulnya akan dibangun untuk akses ke kawasan pariwisata termasuk Yogyakarta- Borobudur,” kata Erman Suparno usai bertemu dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, di kompleks Kepatihan, kemarin.

Pembangunan monorel ini akan dilakukan sepanjang 40 kilometer dengan rute utama Yogyakarta- Candi Borobudur. Di Yogyakarta,dibuat beberapa simpul di sejumlah kampus dan kawasan pariwisata. Nantinya monorel ini akan dibangun di bantaran Sungai Code dan Winongo.Kolom jembatan ini akan dibangun di aliran kali agar ada korelasi dengan penataan kawasan sungai. Dengan konsep ini transportasi akan lebih mudah dijangkau dan murah. “Monorel ini berkaitan dengan penataan kawasan Sungai Code dan Winongo,” ujarnya.

Menurut Erman, dana yang dibutuhkan untuk merealisasikan monorel sepanjang itu sebesar Rp1,8 triliun, termasuk untuk penataan kawasan. Namun sebelumnya, perlu ada perencanaan yang matang dan penentuan jalur. Saat ini, sudah ada investor dari Panghegar Group yang bersedia menanamkan investasi untuk membangun monorel tersebut. Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengatakan, ide pembangunan monorel itu diharapkan dapat untuk menyediakan trasnportasi yang murah.

Monorel ini akan diutamakan dulu untuk pengembangan infrastruktur antara Yogyakarta-Borobudur.Sedangkan perkembangan internal (wilayah Yogyakarta) tergantung hasil studi kelayakan. Monorel ini sangat cocok untuk mendukung pariwisata yang ada di Yogyakarta. Sebab di kawasan utara memiliki view Merapi yang cukup indah. Ini akan banyak disukai,dari pada model terowongan bawah tanah. “Kalau transportasi bawah tanah yang dilihat hanya hitam,kecuali kalau di dinding ada gambarnya. Sedangkan di utara view Merapi cukup indah,” tandas Sultan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY Tavip Agus Rayanto mengakui untuk transportasi jangka panjang Pemprov sudah merencanakan penataan sistem transportasi Yogyakarta dengan monorel.Ongkos sosial pembangunan juga sangat murah karena menggunakan bantaran sungai.“Tetap akan ada feasibility studydulu,”ujarnya. Terpisah,Kepala Pusat Studi Trasportasi dan Lingkungan (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) Heru Sutomo mengatakan, kawasan di Yogyakarta dan akses menuju ke Magelang saat ini memang cukup padat.

Keberadaan monorel akan sangat cocok untuk mengatasi permasalahan yang ada. Apalagi kondisi jalan, dengan banyaknya proyek dan ancaman Merapi kerap mengganggu roda transportasi. Permasalahan yang ada adalah lebih kepada permasalahan anggaran. Di sinilah peran dari pihak ketiga atau investor sangat diperlukan. Sebab kalau sampai ada sharing atau subsidi dengan daerah akan memberatkan daerah. “Monorel ini akan mendukung pembangunan ekonomi,” jelasnya.

Pembangunan monorel, kata dia, memang lebih menghemat biaya. Sebab ruas jalan yang akan dibangun berada di atas dan tidak akan banyak mengeluarkan biaya sosial.Hal ini sangat cocok dilakukan di Kota Yogyakarta yang suasana transportasinya sudah cukup padat. Selama ini, monorel lebih banyak digunakan untuk jarak pendek. Seperti di Kuala Lumpur dan Sidney,monorel hanya melayani jalur tengah kota. Namun di Tokyo, monorel juga cukup panjang dengan jarak tempuh mencapai 20 kilometer. Sedangkan konsep yang akan dibangun ini mencapai 40 kilometer.

“Monorel selama ini untuk kawasan kota,tidak tahu kalau jarak sejauh ini apa akan efektif atau tidak,”ujarnya. Menurutnya, monorel akan lebih efektif dibangun di pusat kotauntukmendukungprogram menyejahterakan masyarakat.

Ritual Siraman Kraton Yogyakarta

0 komentar
Hari kedua prosesi pernikahan antara putri bungsu Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendara atau GRay Nurastuti Wijareni dengan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara atau Achmad Ubaidillah dilanjutkan dengan prosesi siraman hari ini, Senin (17/10/2011). Prosesi tersebut digelar di dua tempat berbeda. Untuk pengantin pria prosesi siraman digelar di bangsal Kesatrian, sementara untuk mempelai putri di Bangsal Sekar Kedhaton.






S

GKR Bendara Jalani Prosesi Malam Midodareni

0 komentar
Calon pengantin, GKR Bendara menjalani prosesi malam Midodareni di Bangsal Sekar Kedaton, Keraton Yogyakarta, Senin (17/10/2011) malam. Malam midodareni adalah malam terakhir masa lajang putri yang hanya ditemani saudara dan kerabat perempuannya menjelang hari pernikahannya keesokan harinya.



DIY Masuk 10 Besar Kota Bebas Korupsi di Asia

0 komentar

Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi kota terbersih di Indonesia dan 10 besar di Asia dari sisi kasus korupsi. Hal itu dinyatakan oleh Kepala Kantor Wilayah Pajak Yogyakarta, Djangkung Sudjarwadi, saat meresmikan Pencanangan Sensus Pajak Nasional di Wonosari, Jum'at (30/9) lalu.

"DIY kota terbersih dan masuk 10 besar di Asia versi Global Corruption Index," katanya pada Wartawan.

Di tingkat nasional, lima Kabupaten DIY menjadi 10 besar kota terbaik dalam pajak. Kota Wonosari menjadi juara pertama dalam Kepatuhan Penyampaian SPT Tahunan Pajak PPh. Keempat Kabupaten lain antara lain Bantul, Sleman, Kulonprogo, dan Kota Yogyakarta.

Terkait Sensus Pajak Nasional (SPN), Djangkung mengatakan, target di DIY adalah 30ribu wajib pajak. Menurutnya, sebelum pencanangan SPN pun, peningkatan wajib pajak yang melapor sudah sangat besar. SPN lebih dititikberatkan untuk sosialisasi dan sarana edukasi bagi wajib pajak.
REPUBLIKA.CO.ID

Ini Dia Undangan Royal Wedding Putri Sultan HB X

1 komentar

Tak lama lagi, putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X, GRAj Nurastuti Wijareni akan menikah dengan Achmad Ubaidillah yang kini bergelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara. Pernikahan akan digelar Selasa 18 Oktober 2011.

Bagaimana undangan untuk pernikahan kerajaan ala Keraton Yogyakarta? Publik tentu penasaran. Kartu undangan untuk pernikahan sang Putri Sultan kali ini berwarna hijau. Hijau yang sangat identik dengan warna Keraton Ngayogyakarta.

Lumayan besar yakni sekitar 18 x 30 cm dengan hardcover. Undangan dengan logo Keraton Yogyakarta dan emboss emas di bagian depan itu mirip seperti sebuah buku yang bisa dibuka.

Jika undangan dibuka bagian dalamnya, pada sisi kiri terdapat beberapa lembar yang berisi undangan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Ada pula kartu parkir dan kartu makan untuk para pengemudi.

Sementara itu di sisi kanan, yang terbagi menjadi tiga bagian, terdapat sebuah block note sebagai souvenir, kartu pengganti buku tamu, dan dua pin yang harus dikenakan oleh para tamu saat mendatangi acara pernikahan.

Pin itu berupa emblem Keraton Yogyakarta berbahan logam dengan pita berwarna hijau muda. Karena tanda yang diberikan hanya dua, maka otomatis, undangan ini hanya berlaku untuk dua orang.

Berikut bunyi undangan lengkap pernikahan Putri Bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X:

Ngerso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati ing Ngalaga, Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama, Kalifatullah. Ingkang Jumeneng Kamping X ing Ngayogyakarta Hadiningrat saha Gusti Kanjeng Ratu Hemas Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarraokatuh Dengan hormat, mengundang kehadiran bapak, ibu dan saudara sekalian untuk memberi doa restu pernikahan putri kami Gusti Kanjeng Ratu Bendara (GRAJ Nurastuti Wijareni, B.A) Menikah dengan Kanjeng Pangeran Harya Yudanegara (Achmad Ubaidillah, S.E., M.si) Besok pada hari Selasa Wage tanggal 20 Dulkaidah 1944 bertepatan tanggal 18 Oktober 2011 pada jam 19.00 WIB - 20.00 WIB bertempat di Komplek Kepatuhan Danurejan, Jalan Malioboro, Yogyakarta Besar harapan kami atas kehadiran bapak, ibu dan saudara sekalian, atas perhatian dan kehadirannya kami mengucapkan terima kasih. Wassalamu'alaikum warohmatullahi warbarrokatuh

Ngayogyakarta Hadiningrat Tanpamu Kami Bisa

0 komentar
Di tengah polemik masalah seputar status keistimewaan daerah Yogyakarta yang dipicu oleh pidato presiden SBY yang menyatakan bahwa tak mungkin bisa sistem monarki bersanding dengan demokrasi, muncul banyak perlawanan dari masyarakat pro referendum (masyarakat yang menginginkan agar Sri Sultan dan Paku Alam tetap menjadi raja atau kepada wilayang Yogyakarta).

Pasport dan KTP Ngayogyakarta Hadiningrat
Pasport dan KTP Ngayogyakarta  Hadiningrat














































sponsored link:

Salah satu perlawanan yang unik adalah dengan menerbitkan KTP dan Pasport negara ngayogyakarta Hadiningrat, walaupun belum resmi, namun Pasport dan KTP ini sudah bisa bikin heboh masyarakat Indonesia khususnya di dunia maya.


























Niki airlines yg baru, monggo :)

























Ngatos2 wong Angkatan Bersenjata Nagari Ngajogjakarto Hadiningrat sampun siap membela Sultan :)
























Monggo, uangnya jg sudah siap dgn kurs 1 ketip - Rp 890 :)

























Monggo dipun kenali lambangipun Nagari Ngajogjakarto Hadiningrat :)




























Hati2 lho Om kalau Kawula Yogya sampai dirusuhi... "Tanpamu Kami Bisa" lho...